"Aku... mau istirahat sebentar."
Aku mengucap pelan pada diri sendiri, sembari menyandarkan diriku di sandaran kursi dan menutup mata.
Ruang kerjaku saat itu hening, diterangi oleh cahaya redup dari layar komputer dan dengan meja yang dikelilingi oleh tumpukan laporan yang belum selesai.
10 menit, hanya 10 menit.
Saat perlahan tertidur, sebuah gambaranーmemori mulai terbentuk di benakku.
Saat itu sedang hujan. Kami berada di sebuah kafe kecil. Kamu duduk di seberangku, sambil perlahan-lahan mengaduk secangkir kopi yang sudah lama dingin.
"I don't think I can't do this anymore,"
ucapmu yang anehnya terdengar sangat nyaring, di tengah-tengah suara pelanggan lainnya di kafe itu dan suara kendaraan yang berlalu lalang.
Aku bahkan mengingat dengan jelas senyuman lelah yang terlukis di wajahmu, sebelum kamu berdiri dan pergi. Kamu tidak marah padaku, kamu juga tidak menyimpan dendam.
Saat itu, aku berpikir akan selalu ada waktu untuk mengubah segalanya. Namun kini, yang bisa kulihat hanyalah memori itu.
Laporan-laporan yang belum selesai di mejaku menjadi tak berarti. Lembur, promosi, segala pencapaianku menjadi tak berarti.
Aneh. Aku hampir tak bisa mengingat semua hal yang pernah kucoba dengan susah payah. Namun, aku dapat mengingat ucapan perpisahanmu dengan sangat jelas.
Dan saat kegelapan menyelimutiku dengan lembut, ada satu hal yang tetap melekat lebih lama daripada yang lain:
Aku menghabiskan hidupku bekerja hanya untuk terlambat menyadari, bahwa orang yang ku sayangi tidak menginginkan apa pun dariku, selain diriku sendiri.